Robert Draws – Seniman Jerman Werner Haertl mengusung konsep yang sangat tidak biasa dalam dunia seni: melukis dengan menggunakan kotoran sapi. Karya seninya kini menjadi sorotan dunia, karena ia menggunakan bahan alami dan berbasis tanaman untuk menciptakan lukisan-lukisan yang menawan dan berharga tinggi. Keunikan karya Haertl bukan hanya terletak pada teknik yang ia gunakan, tetapi juga pada pesan yang terkandung di dalamnya tentang hubungan antara manusia, alam, dan hewan.
Werner Haertl, seorang seniman asal Munich yang berusia 46 tahun, menjalani kehidupan di sebuah studio pedesaan yang dulunya merupakan kandang sapi. Dalam lingkungan yang dikelilingi oleh alam, Haertl menemukan inspirasi untuk menciptakan seni yang terhubung langsung dengan kehidupan di pedesaan. Salah satu unsur utama dalam proses karyanya adalah kotoran sapi. Dimana ia bisa dapatkan secara gratis dari seorang petani di sebelah studionya.
Haertl menghindari penggunaan bahan-bahan yang dibeli di toko kerajinan, melainkan memilih untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Dalam prosesnya, ia memperoleh kotoran sapi yang ia olah menjadi cat dengan cara yang sangat khas. Cat kotoran sapi ini digunakan untuk menciptakan karya yang menggambarkan kehidupan pedesaan. Ia menggunakan sapi sebagai salah satu subjek yang berulang dalam karyanya. Haertl mengatakan bahwa sapi adalah simbol dari kekuatan alam yang sangat berharga baginya, dan ia ingin karya seninya mencerminkan penghargaan tersebut.
“Baca juga: Menyongsong Masa Depan Kreatif: President University Luncurkan Fakultas Seni dan Desain”
Namun, melukis dengan bahan alami seperti kotoran sapi tentunya membawa tantangan tersendiri. Haertl mengakui bahwa salah satu kesulitan awal yang ia hadapi adalah mengendalikan kotoran yang jatuh tak terkendali dari kuas ke tempat yang tidak diinginkan. Meski demikian, ia tidak pernah gentar dan terus berinovasi dalam menemukan cara untuk menghasilkan lukisan yang unik dan memikat. Ia menggunakan kuas cat yang seolah-olah berfungsi seperti tinta gambar. Ia pun berhasil menghasilkan goresan-goresan yang menggambarkan kehidupan pedesaan dan hewan dengan detail yang mengesankan.
Bagi Haertl, tantangan ini justru menjadi bagian dari keindahan seni yang ia ciptakan. “Kotoran sapi adalah bahan yang polarisasi, namun saya merasa ini adalah cara yang valid untuk menggunakannya dalam seni,” kata Haertl. Ia percaya bahwa seni dapat mengusung pesan yang kuat meskipun menggunakan bahan yang tidak biasa.
Karya seni Haertl tidak hanya memikat perhatian banyak orang, tetapi juga dijual dengan harga yang tidak murah. Lukisan kecil karyanya dijual dengan harga sekitar 200 euro, sementara karya yang lebih besar bisa mencapai harga beberapa ribu euro. Meski terbuat dari bahan yang tidak lazim, kualitas dan keunikan karya Haertl membuatnya layak dihargai tinggi oleh para kolektor seni. Pembeli tidak perlu khawatir dengan bau dari kotoran sapi tersebut. Haertl menjelaskan bahwa setelah lukisan mengering dalam dua hingga tiga hari, bau tersebut hilang sepenuhnya, dan hanya tersisa keindahan karya seni yang memukau.
“Simak juga: Strategi Pemasaran Efektif: Bagaimana Program Giveaway Dapat Menarik Pembeli”
Haertl tidak hanya menggambarkan kehidupan di pedesaan, tetapi juga ingin menyampaikan pesan tentang hubungan manusia dengan alam. Karya seninya merupakan bentuk penghargaan terhadap alam dan hewan, terutama sapi, yang menjadi simbol kekuatan dan kesuburan tanah. Dengan memilih kotoran sapi sebagai bahan dasar lukisan, Haertl mengajak kita untuk melihat nilai dan keindahan dalam hal-hal yang seringkali dianggap remeh atau tidak bernilai. Dalam dunia seni yang sering kali dipenuhi dengan kemewahan dan bahan-bahan mahal, Haertl membawa sebuah pesan bahwa seni sejati tidak selalu harus mahal, tetapi bisa ditemukan dalam kebijaksanaan alam.
Werner Haertl telah membuktikan bahwa kreativitas dalam seni tidak mengenal batas. Dengan kotoran sapi sebagai bahan utama, ia berhasil menciptakan karya yang memukau, menantang konvensi seni, dan mengajak dunia untuk merenungkan kembali hubungan kita dengan alam.